Senin, 31 Maret 2014

Maaf & Memaafkan

SELASA yang kelam, padahal  berharap hanya senin saja.  Siang, jarum jam menunjukan pukul 13.05 wib (panas sekali_dan mungkin ini juga yang mempengaruhi sel- sel otakku ikut memanas sehingga akhirnya tak bisa diajak berdamai dengan keinginan hati).
Abi lagi-lagi pergi meninggalkan kami (aku & kaka') menuju Jakarta (kota yang selama ini menjadi satu-satunya tempat abi mencari uang).  Meskipun sudah berbagai upaya abi lakukan (termasuk kami_aku & kaka) "teringat ketika hampir seharian kami menunggu abi test & interview di salah satu pabrik yang berlokasi di Jatiluhur (dan pada kenyataannya nego gaji lah yang menjadi kendala).  Harus diakui mencari pekerjaan tidak semudah yang dipikirkan, banyak pertimbangan apalagi jika status sudah bukan lagi single.
Menyesal karena ritual perpisahan aku dan suamiku tidak meninggalkan kesan romantis.  Aku sibuk (sengaja menyibukan diri) dengan smartphone di tangan, dan abi berlari mengejar bus Bandung-Bekasi.
Ya, tanpa ucapan pamit atau cium tangan atau pandangan mata mendalam (menyimpan kata "RINDU").  Tanpa semua itu, dan terasa pahit.
 Jaga diri baik-baik abi, suamiku tersayang dan terkasih.  Maafkan keegoisan umi yang enggan meredam rasa amarah dan menunjukkannya di depan abi, sungguh.

Pernikahan adalah sebuah proses pembelajaran dan tahapan yang harus dilewati sebagai salah satu upaya pendewasaan diri (ya, mungkin lanjutan proses pancarian jati diri_karena belajar tak pernah ada akhirnya, selalu berlanjut).  Pernikahan tak selamanya senang dan tersenyum.  Kadang terasa sedih dan menangis.
Tapi, pernikahan selalu _INDAH_ pada akhirnya (jika kita bisa selalu memaafkan)

Salam rindu untuk suamiku yang penuh maaf ^^

Selasa, 25 Maret 2014

Kontrak Kerja (Akhrinya setelah hampir 3 bulan tanpa KEJELASAN)

Akhirnya tanda tangan kotrak kerja, memasuki tahun ke 4 (dan pada kenyataannya tak pernah ada kenaikan gaji atau upah lebih tepatnya). Tak pernah ada bonus atau tunjangan, dan saya (ntah dengan status apa) pegawai, buruh, honorer, sukarelawan??? Harus tetap menerima semua nikmat ini dengan ucapan "Alhadulillah" ^^
Berjumpa dengan kawan lama, menanyakan kabar setiap sahabat (meskipun dengan susah payah membiasakan diri menahan semua rasa malu, maklum karena saya termasuk orang yang tertutup dan tidak suka dengan suasana yang ramai / banyak orang).  Padahal tidak semuanya ingin saya jumpai (karena tidak membuat saya nyaman.
Saya hanya terus berharap, kita (BURUH harian LEPAS) yang setidaknya dalam hati kecil kami (meskipun saya tidak begitu tertarik dengan hal yang satu ini) mengharapkan akan lebih dihargai dengan status yang lebih diakui (dilegalkan).  Akan terus memiliki komitmen, memegang sumpah setia untuk terus menjalankan amanah sebagai seorang "Pelayan masyarakat".  Dan yang paling penting adalah tak pernah kehabisan impian (impian akan hidup yang jauh lebih baik dari sekarang_saat ini).

(postingan perdana_meskipun keyboardnya error "m" tak bisa berfungsi, dan akhirnya mengeluarkan jurus andalan COPY PASTE)