“2
minggu,… tapi bisa jadi 4 minggu ko mi” jelasmu lewat saluran telepon. Seketika itu perasaanku tak nyaman, ada
sesuatu yang mengganjal dalam hati.
“ko
kayak yang gak seneng abi telpon,??” akhirnya kita sepakat menutup telpon
masing – masing. Dan aku tertegun di
depan layar laptop. Pandanganku kosong
tak tertuju, dan kepalaku penuh dengan bayangan – bayangan yang hanya melintas
lalu lalang tak tentu arah.
Argggghhhhh,,,,,, aku muak!!!!
Untuk
beberapa saat mungkin aku membiarkan otakku menerima semua sinyal yang tercipta
dari rasa muak yang hampir memenuhi setiap sela-sela di rongga dada. Dan setelah itu akhirnya memutuskan untuk
kembali berpikir logis. Kamu butuh
aku. Cuma aku yang bisa. Yap, only me. That’s right.
…………………….
Terlalu
egois jika aku terus membiarkan rasa nyamanku yang menang dan pada akhirnya
membiarkan dirimu kembali mengubur impianmu.
Jepang, itu impian terbesarmu kan abi??? Luruh air mataku,
Karena
aku dan buah cinta kita, kau putuskan untuk tak lanjut kuliah dan fokus
bekerja. Maaf,
Dan
kini aku harus mencoba memahami dengan seluruh sisa-sisa rasa sesak ketika membayangkan
kita akan terpisah meskipun hanya dengan selisih waktu 2 jam. kita tetap terpisah, terpisah dengan jarak
6.050 km. Memahami bahwa aku tak boleh lagi
menjadi penghalang impianmu, tepatnya untuk kali ini.
“Umi,
Abi punya impian lanjut kuliah ke jepang.
Abi tempel kertas tulisan penyemangat biar kalo abi mulai gak semangat
atau mulai putus asa. Abi bakalan
semangat lagi” wajahmu tersenyum kala itu, ketika menceritakan impianmu yang
tak tau mulai muncul sejak kapan. Ya, si
anak kampung yang bermimpi kuliah sampai negeri sakura. “Nanti abi ajak umi juga, pasti” kali ini aku
yang tersenyum. Ya, 7 tahun yang lalu,
kamu ingat sayang? Aku mulai kembali
mengingat. Maaf,
Hari
demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.
Semua hanya menjadi kenangan si anak kampung. Kamu tak pernah pergi ke jepang. Impian yang terkubur dalam dan teramat dalam
di bawah lubuk hatimu, tersembunyi dan terlupakan –ternyata itu hanya
bagiku. Kau tetap memimpikannya sampai
detik ini. Maafkan aku untuk itu,
Tak
pernah terbayangkan jika tesismu tentang pengembangan aplikasi Kopel Thermo –
Hydro mekanik itu dibimbing oleh 2 orang dosen yang super hebat. Setidaknya itulah kesan yang aku tangkap
setiap kali mendengarkan ceritamu tentang mereka. Melalui merekalah Allah SWT mengabulkan
impianmu, meskipun belum seutuhnya tetapi sebentar lagi sayang. Dan Allah SWT Sang Maha Sempurna selalu tepat
waktu, tak pernah tergesa – gesa, tak pernah terlambat. Kini si anak kampung yang dulu hanya bisa
tersenyum sambil bermimpi, kini ia sanggup tersenyum sambil berlari mengejar
imipiannya, berlari kencang sangat kencang dan penuh semangat.
Bismillah,
sayang.. Alhamdulilah, jangan pernah terlupa..
Rindu
ini biar aku yang rasa, biar aku yang luapkan bersamaan dengan tetes - tetes air
mata dan aku balut melalui doa – doa indah untukmu “Semoga Allah selalu menjaga
engkau wahai suamiku, Selalu… amiin”
Jaga
dirimu baik – baik disana, selalu ingat Sang Maha Hidup dimanapun kamu berada,
bersyukurlah untuk setiap hembusan napas yang masih Allah karuniai untuk kita
semua, kembalilah dengan seutuhnya ke dalam pelukan kami, keluargamu.. dan
ketika Allah pertemukan kita nanti, berikan senyuman terindah hanya untukku,
hanya untuk istrimu seorang… usaplah air mata istrimu ini, tapi berjanjilah
untuk tidak bersedih.. itulah rinduku.. itulah bahagiaku.. itulah kamu..
suamiku,
Suamiku
tersayang, si Lelaki pemimpiku…yang tak pernah berhenti bermimpi…
Selasa,
13 Juni 2016 23:05 (Ramadhan yang selalu indah)