Selasa, 05 September 2017

Temu Kangen ^^ dan Dunia Sudah Berubah

Iseng buka blog orang lain (lebih tepatnya mba' ... baik hati yang selalu bersemangat setiap hari). Terharu bacanya mungkin karena ceritanya hampir sedikit agak mirip... padahal sih gak gak banget,
------------------------
Oya sekarang dunia sudah banyak berubah, setidaknya itu yang saya tahu ^^ Sekarang kaka Dias sudah masuk sekolah dasar (udah lulus dari TK yang pasti maaf), abinya pergi merantau ke pulau Sumatra, dan saya sudah pindah tugas ke tempat yang lain meskipun masih tetap dengan status tenaga kontrak / bukan tetap.
Bercerita tentang tempat kerja yang baru, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan zona aman kami.  Sama - sama meskipun dua - duanya tidak pernah kami rencanakan sebelumnya.  Kini saya lebih banyak berhadapan dengan laptop atau si Legal (bukan pasien lagi), sedang suami lebih banyak berhadapan dengan mahasiswa bukan laptop lagi (mungkin lebih tepatnya tidak sesering dulu).  Dunia kami sudah benar - benar berubah,
-------------------------
Tidak disangka skenario dari Sang Maha Pencipta di luar dugaan kami, ketika saya memutuskan pindah bekerja dengan harapan waktu libur kami yang akan saling beririsan (Sabtu & Minggu), tapi nyatanya Allah SWT membuka pintu rejekinya, Abi si laki - laki pemimpi diterima menjadi Dosen tetap non PNS di salah satu perguruan tinggi negeri baru di Sumatra.  Yah itu adalah impiannya ^^
Banyak konsekuensi yang harus kami terima, salah satunya dengan penghasilan abi yang sudah berkurang (tetap bersyukur_agar Allah tambahkan rejekinya, aamiin), selain itu jarak diantara kami yang semakin jauh (gakan ada lagi cerita dimana istri susul suami)
------ Bersambung

Senin, 13 Juni 2016

Hanya “Sia – sia”, ketika aku & dia tak CINTA



‘‘Tuhan mungkin yang telah menjodohkan kami berdua“ hatiku berucap, sembari terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan kembali seperti semula.  Masih teringat masa – masa indah di awal pernikahan kami berdua.  Rasanya baru kemarin aku mengenakan kebaya berwarna putih dengan kerudung berhias untaian bungan melati yang masih segar baunya.  Padahal kejadian itu sudah hampir 4 tahun yang lalu, dan kini kami berdua terduduk merenungi nasib satu sama lain, dengan terus menerus memenuhi semua volume otak dengan emosi yang secara perlahan – lahan menguras rasa cinta kasih kami.  Ya, kami berdua sedang bertengkar, berperang, saling menyerang, dan rasanya ingin saling melumpuhkan kekuatan musuh (yang tak lain adalah adalah belahan jiwa,DULUnya).
Sulit bagi kami untuk melemahkan hati demi mengakhiri pertempuran ini.  Sehingga pada ujungnya tak pernah ada kata ‘‘happy ending“.  Tamparan, tendangan, pukulan, tinjuan semua itu turut berpartisipasi ketika kami sedang bertengkar.  Hanya lebam, goresan, cakaran dan luka lainnya yang tersisa dari semua kejadian itu.  Tak ada satupun pihak di antara kami berdua yang dinyatakan sebagai pemenang.  Tak ada pula yang kalah.  Maka, hanya berakhir sia – sia....
Andai aku atau dia mampu mengucapkan kata “maaf“ dengan hati tulus dan ikhlas.  Tapi nyatanya lebih sulit daripada menunjukan kebencian yang sesungguhnya hanya muncul seketika dan menjadi bahan bakar yang ampuh untuk memenuhi tangki mesin amarah kami. 
Andai aku atau dia bisa saling meredam amarah dengan rasa cinta kasih kami yang sudah berikrar untuk saling memahami.  Ya Tuhan... (aku menangis),
Andai kami lebih sederhana untuk mengartikan keberadaan kami satu sama lain.  Tuhan yang telah menjodohkan aku dan dia.  Tuhan yang telah mempertemukan aku dan dia di saat yang tepat dan membiarkan kami untuk belajar bersama untuk menghadapi saat – saat yang tidak tepat.  Tuhan telah menitipkan “Cinta“ agar aku dan dia tidak berakhir dengan sia – sia.

Nb : “Abi sayang, maafkan umi yang tidak pernah mau mengalah, dan terima kasih karena abi bersedia untuk selalu mengalah demi umi.. bukan!!! Bukan demi umi, demi kami (aku dan dia)“ ^

Kejadian aslinya mungkin gak seseram tulisan ini,,, hehehe... hanya saja ingin berbagi bahwa pernikahan harus selalu diperjuangkan.. dengan banyak cara.. salah satunya dengan terus belajar dari kesalahan - kesalahan di masa lalu...
masa lalu bukan untuk dihapus,, bukan untuk dilupakan begitu saja,, melainkan untuk menjadikan diri kita lebih baik di masa depan,,,
kekuatan cinta itu dibuktikan ketika kita dalam kondisi tak menguntungkan,, sejauh mana kita belajar dari masa lalu,,
pegang erat tangan si Cinta,, susun taktik bersama,, dan baca bismillah... ^^ AYO belajar Bersama - sama

12 Juli



 Happy milad my dear, belahan jiwaku, sahabat setiaku, tempat aku menumpahkan setiap tetes air mata baik suka maupun duka. Mungkin bukan hal yang istimewa untukmu. Tapi ini salah satu moment yang paling mendebarkan untukku.  Ketika berpikir apa yang akan aku hadiahkan untuk laki – laki terbaikku, saat itu hatiku sudah berdebar kencang, frekuensinya mungkin dikategorikan takhikardi_sedikit menggunakan istilah medis yang jelas tak kau mengerti. Kemudian disusul dengan bagaimana caranya untuk mendapatkan barang tersebut, terkadang harus menyusun taktik sehingga aku bisa menyisihkan sebagian uang sakuku. Berusaha membungkusnya dengan begitu sangat rapih sampai – sampai harus mengulang beberapa kali karena tak puas dengan hasil bungkusannya.  Tahukah kau sayang, semuanya itu hanya untuk menunjukkan betapa besarnya rasa syukurku atas berkah kelahiranmu.  Ya, kelahiranmu tepat pada tanggal 12 juli 26 tahun yang lalu.  Meskipun kau sendiri tak yakin kapan tepatnya kau dilahirkan.  Konyol bukan.
Aku berharap, sangat amat berharap.  Bukan harganya yang membuatmu menyukai hadiah ini.  Melainkan sisi lain yang sengaja aku selipkan di bungkusan paling dalam.  Kau bisa melihatnya sayang.  Uppss, maksudku merasakannya.  Merasakan perasaanku yang turut aku sertakan. 

............................ (saling memandang)

Jantungku berhenti berdegup rasanya.  Kubisikan beberapa kalimat dengan suara lirih di telingamu.
  „Tetaplah hidup selama-lamanya bersamaku, sehingga aku selalu memiliki kesempatan unttuk mengenang setiap detik yang terlewati di setiap tanggal 12 Juli.  Menjadi satu – satunya orang yang mengucapkan ucapan happy milad terindah untukmu.  Ijinkan aku untuk terus merasakan debaran jantung yang bertubi – tubi ini.  Lalu tiba – tiba berhenti seketika ketika pandangan kita saling bertemu.  Meskipun kau bosan dengannya, tapi berjanjilah agar tak pernah mengatakan bosan di hadapanku.  Setidaknya sampai jantungku tak sanggup lagi berdebar kencang dan berhenti berdegup untuk selama – lamanya“
Sayangku, semoga Tuhan memberikan kau kesempatan hidup di tahun depan, tahun depan, tahun depan dan seterusnya.  Bersamaku.

Selamat ulang tahun teruntuk suamiku, (Lelaki Pemimpiku)


----------------------
3 tahun yang lalu, masih harus banyak belajar....^^

Ulang tahun termasuk di antara hari - hari raya jahiliah dan tidak pernah dikenal di zaman
Nabi shallallahu alaihi wasallamKarenanya tidak boleh seorang muslim mengucapkan selamat kepada siapapun yang merayakan hari raya yang bukan berasal dari agama Islam (seperti ultah, natalan, waisak, dan semacamnya), karena mengucapkan selamat menunjukkan keridhaan dan persetujuan dia terhadap hari raya jahiliah tersebut.  Wallahu a’lam




Putus Asa ‘KU








 
P
asrah,ketika pandangan mata ini hanya tertuju pada jarum jam yang menunjuk angka 12. Ya, mataku masih belum terpejam meskipun kini sudah tengah malam.  Masih ingat betul rasanya ketika kakiku kedinginan disebabkan celanaku yang basah karena jas hujan yang kukenakan bocor. Menggigil menjalar ke seluruh tubuhku saat itu.  Sial benar nasibku,setelah kemarin malam dihantam ratusan air hujan yang turun dari langit,kini aku harus siap pula menghadapi pertempuran batin dengan pria yang sudah 3 tahun terakhir ini menghabiskan waktunya bersamaku.
Ingin rasanya terjatuh ke sebuah lubang dan masuk ke dunia Alice, bertemu dengan kelinci putih besar yang dapat berbicara,pasukan kerajaan kartu beserta ratu mereka yang jahat.  Mengalami berbagai petualangan dan berharap tak pernah ada akhirnya.  Astaga, mengapa rasanya benar – benar putus asa diri ini.  Sehingga begitu enggan berjumpa dengan realita yang ada.
“Ayo,cepat tidur” kubisikan kalimat itu berkali – kali di benakku, seakan sedang memberikan hipnotis untuk diri sendiri. Tapi ternyata gagal. Mungkin memang harus belajar ilmu hipnotis terlebih dahulu untuk bisa menjadi seorang ahli hipnotis.  Begitupun dengan hidup, harus terus belajar.  Tapi sampai kapan, kembali diri ini putus asa.  Menyerah lebih tepatnya.
Laki – laki ku, pria yang kucintai dengan seluruh rasa cinta yang kumiliki, mulai mendengkur dengan sangat kerasnya.  Harus kusadari perjalanan Jakarta – Purwakarta cukup melelahkan. Aku harus sabar, mencoba belajar untuk bersabar, bukankah itu salah satu mata pelajaran dalam kelas pernikahan.  Sulit mendapatkan nilai A untuk mata pelajaran yang satu ini.  Kembali, dan kembali putus asa.
Andai aku bisa menjadi seperti ibunda Khadijah. Ya Tuhan, aku terlalu berharap secara berlebih. Seandainya aku adalah istri yang baik mungkin aku tidak akan pernah melewati kejadian seperti ini. Sialnya aku bukan termasuk kriteria tersebut.  Meskipun aku sudah sedemikian keras berlari untuk memperoleh gelar cum laude sebagai seorang istri.  Aku tetap menjadi wanita angkuh, egois, dan pemarah.  Aku hanya sebuah kesalahan yang teramat buruk, yang harus dihapus, dihilangkan dan dimusnahkan dari muka bumi ini. Aku putus asa...

 "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" " Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang - orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang - orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahun orang - orang yang dusta." Al 'Ankabut : 2 - 3

Sesungguhnya seorang muslim diharamkan berputus asa dalam hal apapun, karena Allah SWT tidak akan membebani kecuali sesuai dengan kesanggupan hambanya.. ^^ 

Ganbatte!!!!

Mimpimu Meskipun Bukan Mimpiku,, Tapi itu Bahagiaku.. ^^



“2 minggu,… tapi bisa jadi 4 minggu ko mi” jelasmu lewat saluran telepon.  Seketika itu perasaanku tak nyaman, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. 

“ko kayak yang gak seneng abi telpon,??” akhirnya kita sepakat menutup telpon masing – masing.  Dan aku tertegun di depan layar laptop.  Pandanganku kosong tak tertuju, dan kepalaku penuh dengan bayangan – bayangan yang hanya melintas lalu lalang tak tentu arah.  Argggghhhhh,,,,,, aku muak!!!!

Untuk beberapa saat mungkin aku membiarkan otakku menerima semua sinyal yang tercipta dari rasa muak yang hampir memenuhi setiap sela-sela di rongga dada.  Dan setelah itu akhirnya memutuskan untuk kembali berpikir logis.  Kamu butuh aku.  Cuma aku yang bisa.  Yap, only me. That’s right.

…………………….

Terlalu egois jika aku terus membiarkan rasa nyamanku yang menang dan pada akhirnya membiarkan dirimu kembali mengubur impianmu.  Jepang, itu impian terbesarmu kan abi??? Luruh air mataku,
Karena aku dan buah cinta kita, kau putuskan untuk tak lanjut kuliah dan fokus bekerja.  Maaf,

Dan kini aku harus mencoba memahami dengan seluruh sisa-sisa rasa sesak ketika membayangkan kita akan terpisah meskipun hanya dengan selisih waktu 2 jam.  kita tetap terpisah, terpisah dengan jarak 6.050 km.  Memahami bahwa aku tak boleh lagi menjadi penghalang impianmu, tepatnya untuk kali ini. 

“Umi, Abi punya impian lanjut kuliah ke jepang.  Abi tempel kertas tulisan penyemangat biar kalo abi mulai gak semangat atau mulai putus asa.  Abi bakalan semangat lagi” wajahmu tersenyum kala itu, ketika menceritakan impianmu yang tak tau mulai muncul sejak kapan.  Ya, si anak kampung yang bermimpi kuliah sampai negeri sakura.  “Nanti abi ajak umi juga, pasti” kali ini aku yang tersenyum.  Ya, 7 tahun yang lalu, kamu ingat sayang?  Aku mulai kembali mengingat.  Maaf,

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.  Semua hanya menjadi kenangan si anak kampung.  Kamu tak pernah pergi ke jepang.  Impian yang terkubur dalam dan teramat dalam di bawah lubuk hatimu, tersembunyi dan terlupakan –ternyata itu hanya bagiku.  Kau tetap memimpikannya sampai detik ini.  Maafkan aku untuk itu,

Tak pernah terbayangkan jika tesismu tentang pengembangan aplikasi Kopel Thermo – Hydro mekanik itu dibimbing oleh 2 orang dosen yang super hebat.  Setidaknya itulah kesan yang aku tangkap setiap kali mendengarkan ceritamu tentang mereka.  Melalui merekalah Allah SWT mengabulkan impianmu, meskipun belum seutuhnya tetapi sebentar lagi sayang.  Dan Allah SWT Sang Maha Sempurna selalu tepat waktu, tak pernah tergesa – gesa, tak pernah terlambat.  Kini si anak kampung yang dulu hanya bisa tersenyum sambil bermimpi, kini ia sanggup tersenyum sambil berlari mengejar imipiannya, berlari kencang sangat kencang dan penuh semangat.

Bismillah, sayang.. Alhamdulilah, jangan pernah terlupa..

Rindu ini biar aku yang rasa, biar aku yang luapkan bersamaan dengan tetes - tetes air mata dan aku balut melalui doa – doa indah untukmu “Semoga Allah selalu menjaga engkau wahai suamiku, Selalu… amiin”

Jaga dirimu baik – baik disana, selalu ingat Sang Maha Hidup dimanapun kamu berada, bersyukurlah untuk setiap hembusan napas yang masih Allah karuniai untuk kita semua, kembalilah dengan seutuhnya ke dalam pelukan kami, keluargamu.. dan ketika Allah pertemukan kita nanti, berikan senyuman terindah hanya untukku, hanya untuk istrimu seorang… usaplah air mata istrimu ini, tapi berjanjilah untuk tidak bersedih.. itulah rinduku.. itulah bahagiaku.. itulah kamu.. suamiku,

Suamiku tersayang, si Lelaki pemimpiku…yang tak pernah berhenti bermimpi…


Selasa, 13 Juni 2016 23:05 (Ramadhan yang selalu indah)

Kamis, 21 April 2016

Doaku yang Sederhana untukmu,, Saudaraku

Wuiiiiiiiiiih sudah lama saya tak tulis di my Blog... (bahasa apa ini)
Mungkin karena banyak kesibukan yang di ada-adain (ngikutin hobi masyarakat sekarang yang sok sibuk_padahal sibuk ngurusin hidup orang)..

Di tahun 2016 ini, merupakan tahun pengharapan bagi keluarga kecil kami.  Tahun penting, dimana semua impian kami satu persatu mulai tampak realisasinya.  Dan semua itu tak lepas dari doa yang selalu dipanjatkan bagi kami baik dari keluarga besar, saudara dan para kerabat.  Semoga kami selalu diberikan kekuatan agar bisa terus melangkah melewati semua ujian kami yang semakin hari semakin berat (yaaaahhh, namanya juga naik kelas ga ada yang makin mudah kan///).

Di tahun 2016 ini ada satu doa yang Allah kabulkan, dan itu membuat saya takjub.  MasyaAllah, sungguh luar biasa (ekspresip banget kalo udah nyangkut kebesaran Sang Maha Cinta).  Sebenernya bukan hanya doa ini yang Allah kabulkan, saya yakin semua doa yang saya panjatkan (tak ada satupun yang terlewat ) selalu Allah dengarkan.  Meskipun tak langsung Allah kabulkan tapi selalu Allah bungkus indah dan suatu saat ketika waktunya tepat akan Allah berikan sebagai hadiah spesial untuk saya (khusnudzan, dan saya suka itu).

Masih ingat di Ramadhan tahun lalu tepatnya tahun 2015, saya selalu menyelipkan 1 buah doa diantara doa - doa lainnya sebelum saya membatalkan puasa ketika adzan magrib berkumandang.  "Ya Allah, Ya Maha Baik, semoga di tahun depan kakak saya bisa menemukan jodohya yang tepat, yang kelak bisa menjadi imam terbaik di Dunia maupun di Akhirat kelak.  Serta mudahkan ia melangkah ke jenjang pernikahan,,, amiiiiiiin".  kurang lebih itu doa yang saya panjatkan kepada Sang Maha Penyayang.  Dan di pertengahan bulan April tahun 2016, kakak saya (saudara perempuan saya) melangsungkan pernikahannya.  Meskipun banyak hujatan dan saya yakin cobaannya pun tak mudah untuk dilewati.  Tapi kekuatan Allah mengalahkan segalanya.  Meskipun saya tak hadir, meskipun saya tak dapat berjabat tangan dan menunjukan rasa bahagia saya.  Saya doakan semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang berlimpah bagi keluarga baru teteh (panggilan akrab saya untuknya).   

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “(QS: Al-Baqarah: 186)

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”


Cobalah mulai mendoakan kebaikan atas saudara kita, itu sama halnya dengan mendoakan kebaikan atas diri kita sendiri.  #introspeksidiri
-mohon dimaafkan jika ada kesalahan dalam penulisan-

Ketika Teramat benci denganmu wahai_ "PerPISAHaN"



Dunia impianku seketika lenyap, ketika aku tersadar bahwa kau akan segera meninggalkan diriku sendiri.  Kejadian yang terus menerus berulang, dan tetap menyisakan rasa pedih dan sesak di dada.  Ketika kau hadir, aku bagai ratu di duniaku sendiri.  Kau bagaikan napas yang mampu menggerakan seluruh tubuhku.  Gairahku bergejolak, meletup – letup tak terbendung.  Begitulah diriku, ketika kau hadir dan seketika itu juga kau mampu menentramkan segala resahku.

“Suamiku…jangan pergi lagi” rengekanku sambil mencoba menahan tangis meskipun tampaknya tak berhasil.

Seketika itu juga kau hanya membalasnya dengan sebuah senyuman… 
ya, senyuman perpisahan.  Bisa ditebak, saat itu juga air mata ini menetes perlahan dan semakin deras mengalir.  Tak sanggup membayangkan betapa beratnya melalui hari demi hari tanpa dirimu.


Sayangku, apakah tangisku tak berarti bagimu.  Apakah tangisku tak mampu menjadi penahan langkahmu.

Sayangku, aku bagaikan kapal yang berlayar tanpa nahkoda.  Yang terombang ambing di lautan tanpa arah, yang tak berdaya ketika terhantam ombak. 

Aku tak peduli dengan apa yang membuatmu mampu bertahan tanpa aku disampingmu.  Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku begitu lemah tanpamu, aku semakin lama semakin terluka dan tak bisa dipastikan sampai kapan bisa terus bertahan.

“Suamiku, cepat pulang” hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.  Kalimat permohonan yang penuh dengan berjuta harapan, bahwa kau akan menjawab dengan segera “Aku pulang sayang”.


Ntah sampai kapan kalimat permohonan itu akan terucap dari mulutku…

Ntah sampai kapan… aku masih bisa menanti dengan sabar, menahan luka yang terus menerus semakin membusuk… karenaMu..





Selasa, 10 November 2015

23:06 WIB