Kamis, 21 April 2016

Doaku yang Sederhana untukmu,, Saudaraku

Wuiiiiiiiiiih sudah lama saya tak tulis di my Blog... (bahasa apa ini)
Mungkin karena banyak kesibukan yang di ada-adain (ngikutin hobi masyarakat sekarang yang sok sibuk_padahal sibuk ngurusin hidup orang)..

Di tahun 2016 ini, merupakan tahun pengharapan bagi keluarga kecil kami.  Tahun penting, dimana semua impian kami satu persatu mulai tampak realisasinya.  Dan semua itu tak lepas dari doa yang selalu dipanjatkan bagi kami baik dari keluarga besar, saudara dan para kerabat.  Semoga kami selalu diberikan kekuatan agar bisa terus melangkah melewati semua ujian kami yang semakin hari semakin berat (yaaaahhh, namanya juga naik kelas ga ada yang makin mudah kan///).

Di tahun 2016 ini ada satu doa yang Allah kabulkan, dan itu membuat saya takjub.  MasyaAllah, sungguh luar biasa (ekspresip banget kalo udah nyangkut kebesaran Sang Maha Cinta).  Sebenernya bukan hanya doa ini yang Allah kabulkan, saya yakin semua doa yang saya panjatkan (tak ada satupun yang terlewat ) selalu Allah dengarkan.  Meskipun tak langsung Allah kabulkan tapi selalu Allah bungkus indah dan suatu saat ketika waktunya tepat akan Allah berikan sebagai hadiah spesial untuk saya (khusnudzan, dan saya suka itu).

Masih ingat di Ramadhan tahun lalu tepatnya tahun 2015, saya selalu menyelipkan 1 buah doa diantara doa - doa lainnya sebelum saya membatalkan puasa ketika adzan magrib berkumandang.  "Ya Allah, Ya Maha Baik, semoga di tahun depan kakak saya bisa menemukan jodohya yang tepat, yang kelak bisa menjadi imam terbaik di Dunia maupun di Akhirat kelak.  Serta mudahkan ia melangkah ke jenjang pernikahan,,, amiiiiiiin".  kurang lebih itu doa yang saya panjatkan kepada Sang Maha Penyayang.  Dan di pertengahan bulan April tahun 2016, kakak saya (saudara perempuan saya) melangsungkan pernikahannya.  Meskipun banyak hujatan dan saya yakin cobaannya pun tak mudah untuk dilewati.  Tapi kekuatan Allah mengalahkan segalanya.  Meskipun saya tak hadir, meskipun saya tak dapat berjabat tangan dan menunjukan rasa bahagia saya.  Saya doakan semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang berlimpah bagi keluarga baru teteh (panggilan akrab saya untuknya).   

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “(QS: Al-Baqarah: 186)

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”


Cobalah mulai mendoakan kebaikan atas saudara kita, itu sama halnya dengan mendoakan kebaikan atas diri kita sendiri.  #introspeksidiri
-mohon dimaafkan jika ada kesalahan dalam penulisan-

Ketika Teramat benci denganmu wahai_ "PerPISAHaN"



Dunia impianku seketika lenyap, ketika aku tersadar bahwa kau akan segera meninggalkan diriku sendiri.  Kejadian yang terus menerus berulang, dan tetap menyisakan rasa pedih dan sesak di dada.  Ketika kau hadir, aku bagai ratu di duniaku sendiri.  Kau bagaikan napas yang mampu menggerakan seluruh tubuhku.  Gairahku bergejolak, meletup – letup tak terbendung.  Begitulah diriku, ketika kau hadir dan seketika itu juga kau mampu menentramkan segala resahku.

“Suamiku…jangan pergi lagi” rengekanku sambil mencoba menahan tangis meskipun tampaknya tak berhasil.

Seketika itu juga kau hanya membalasnya dengan sebuah senyuman… 
ya, senyuman perpisahan.  Bisa ditebak, saat itu juga air mata ini menetes perlahan dan semakin deras mengalir.  Tak sanggup membayangkan betapa beratnya melalui hari demi hari tanpa dirimu.


Sayangku, apakah tangisku tak berarti bagimu.  Apakah tangisku tak mampu menjadi penahan langkahmu.

Sayangku, aku bagaikan kapal yang berlayar tanpa nahkoda.  Yang terombang ambing di lautan tanpa arah, yang tak berdaya ketika terhantam ombak. 

Aku tak peduli dengan apa yang membuatmu mampu bertahan tanpa aku disampingmu.  Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku begitu lemah tanpamu, aku semakin lama semakin terluka dan tak bisa dipastikan sampai kapan bisa terus bertahan.

“Suamiku, cepat pulang” hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.  Kalimat permohonan yang penuh dengan berjuta harapan, bahwa kau akan menjawab dengan segera “Aku pulang sayang”.


Ntah sampai kapan kalimat permohonan itu akan terucap dari mulutku…

Ntah sampai kapan… aku masih bisa menanti dengan sabar, menahan luka yang terus menerus semakin membusuk… karenaMu..





Selasa, 10 November 2015

23:06 WIB

Bukan Yang Kita Inginkan… Tapi Yang Kita Butuhkan…



Pagi itu, seperti biasa.  Kami berdua melaju dengan sepeda motor, sengaja kupacu perlahan sembari menikmati hangatnya cahaya matahari pagi.  Padahal jam analog di telepon genggam sudah menunjukkan pukul 07.22 wib.  Itu berarti tinggal 8 menit lagi kegiatan di sekolah kaka dimulai.  Tapi tetap tak mau cepat, berharap waktu melambat dan kali ini ingin berdamai sejenak.  Kurasa itu yang kuperlukan,
“Bunda kenapa gak beli mobil? Kemarin temen kaka dianter ayahnya pake mobil ke sekolah..” pertanyaan kaka yang penuh semangat menceritakan tentang temannya membangunkan aku dari lamunanku.  Huft,,, aku terdiam dan hanya menjawab dengan senyuman kecut yang sengaja kupajang di kaca spion motor agar kaka melihatnya.  Kujawab singkat karena aku yakin itu tak akan membuat kaka puas dengan pertanyaanya “Nanti ya ka, kalo kita punya uang nanti kita beli” ntah itu benar – benar sebuah janji yang kelak suatu saat akan kutepati atau hanya sebuah gombalan untuk menghentikan pertanyaan lanjutan dari mulut mungil bidadari kecilku.  Lucunya, aku ketakutan dengan pertanyaan putri semata wayangku.  Ternyata kaka kembali bersuara dengan penuh semangat dan tentu saja dengan kepolosannya.  Aku berpikir sepertinya ia tak pernah kehabisan energi untuk mengomentari apapun itu meskipun untuk hal yang tak penting.  “Ah, gak usah beli Bunda.  kalo pake mobil, Bunda belum tentu bisa ngebut.  Terus gimana kalo mobilnya ilang dicuri penjahat, kan bunda sama ayah gak pernah ada di rumah.  Pake motor aja biar gak telat ke sekolah” pendapatmu yang sederhana namun seketika itu juga membuat aku merasa ditampar, namun dengan lembut, selembut pancaran matahari pagi ini.

Aku ingin menangis, namun kutahan sekuat tenaga.  Biarkan tangis ini pecah nanti ketika aku dalam kesendirian tanpa seorangpun melihatnya.  Biar terlepas semua rasa perih ini dari hatiku.  Gerbang sekolah berwarna pelangi mulai tampak menangkap arah pandanganku yang tak menentu.  Hampir terlambat, namun aku yakin jika terlambatpun tak akan ada hukuman bagimu malaikat kecilku.  Aku tahu mereka, guru-gurumu di sekolah amat menyayangimu, sama halnya seperti aku meskipun sayangku selalu abadi sampai mati.  Kau turun dari tempat boncenganmu dengan lincah dan segera mengulurkan tanganmu untuk meraih tanganku lalu mencium punggung tangan kurus berwarna coklat kehitaman ini.  Aku tersenyum, kupandangi tanganku yang sering terpaksa terbakar oleh terik sinar matahari karena lupa memakai sarung tangan ketika bekerja jadwal siang.  Ya, aku jarang di rumah dan selalu meninggalkanmu, sayang.  Tak lupa kau menyisakan senyum manismu lalu berbalik dan segera disambut oleh sapaan lembut dari gurumu di balik pintu gerbang.  Kudoakan semoga harimu selalu penuh dengan keberkahan, amiiin..

Aku segera memutar arah, berharap masih bisa menahan tangis ini.  Sungguh menyesakan dada.  Sugguh,
Kubuka pintu rumah, mungkin tampak tergesa-gesa.  Namun itu yang kuinginkan, segera melepas semua rasa perih ini.  Menangis sejadi – jadi kemudian menyadarkan diri dari kekhilafan selama ini.  Ya Allah, mengapa aku berpura – pura bodoh, menganggap nikmatmu berbatas.  Padahal semua yang kumiliki saat ini tak lain adalah nikmat dari-Mu. 
………
Hidup, dan aku masih hidup
Bernapas, dan aku masih bernapas
Merasakan, dan aku masih bisa merasakan
Semuanya, semuanya tak lain adalah nikmat-Mu
………

Malaikat kecilku, sungguh kau telah menyadarkanku.  Bahwa Allah memberikan semua yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.  Karena Allah tau segalanya, nikmatnya luas tak ada batas.

Kitalah yang berbatas,

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman : 55)

Teruntuk my_L, yang api nerakapun takkan pernah menyentuh kedua telapak tangannya..
Kau adalah bukti nikmat-Nya,
Semoga Allah senantiasa menjagamu di Dunia-Nya dan di Akhirat-Nya, amiiin

Rabu, 23 Maret 2016
10.35 WIB, rumah mungil kita

Tetap Kalian,



Masih teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ketidakwarasan terus menari dan benakku penuh dengan mimpi – mimpi gila.  Saat itu, obat paling mujarab bukanlah butiran pil yang diresepkan oleh dokter psikiater yang harus ditebus dengan lembaran uang ratus ribuan.  Melainkan cinta mama dan bapak yang mereka tunjukan dengan berjuta perhatian.  Ketika itu juga sehatku mulai datang dan aku tersadar bahwa aku dicintai.
Ya, aku dicintai oleh kedua orangtuaku, dan saat itu cukup bagiku.  Tak perlu ada orang lain lagi, cukup mereka berdua.

Kini, aku kembali merasakan dunia terhimpit, tertekan, dan tak bisa berpikir jernih.  Segalanya buntu dan keyakinan akan kegagalan menghantui setiap langkahku.  Mengapa kejadian ini terus menerus berulang terjadi.  Akankah masa lalu tak bisa pergi jauh – jauh dari diri ini.  Oh Tuhan….

Tertekan lagi, dan aku tak sanggup melangkah.  Untuk berpijak akupun tak sanggup.

Mama.. bapak..
Saat ini aku juga butuh kalian, aku tak butuh orang lain..
Sangat butuh.. terdesak, aku mohon

“Kalo teteh ga bisa nikah, nanti gimana ma?” tanyaku saat itu.  Pertayaan itu melintas begitu saja di otakku ketika aku memandang kepala plontosku.
“Masih ada mama, ada bapa.  Teteh jangan takut.” Jawaban singkat dan sederhana namun penuh makna.  Jawaban seorang Ibu yang berusaha meyakinkan anaknya agar tak takut dengan apapun.  Dan aku menangis,

Kami berdua masih harus melalui ratusan kilometer lagi untuk sampai.  Setelah menghabiskan kurang lebih 3  jam perjalanan akhirnya kami sampai di area parkiran sebuah rumah sakit di daerah Bandung.  Aku pandangi wajah bapak yang begitu lelah, namun ia paksa sembunyikan itu agar tak tampak olehku.  Bapak banyak diam, namun bukan karena tak peduli.  Namun itu tanda cinta bapak untuk anak gadisnya.  Aku faham,

“kalo teteh ga sembuh, gimana pih?” tanyaku mengawali pembicaraan.
Bapak terdiam cukup lama, aku tahu saat itu bapak berusaha memilih kata – kata yang tepat untuk menjawab  pertayaanku.

“Nanti kita cari dokter yang jauh lebih hebat, rumah sakit yang jauh lebih besar dan bagus.” Jawabmu dengan wajah penuh semangat.

Bapak, apa masih kuat dirimu mengendarai motor ribuan kilometer hanya untuk anakmu ini?, hanya karena ingin anakmu sembuh   Ya Tuhan, aku kembali menangis di dalam hati.

Aku berusaha memejamkan mata, berusaha menghadirkan kalian di dalam pikiranku.  Aku terus memanggil nama kalian, berkali – kali.  Apakah kalian merasakannya?

Ketika tak ada satupun yang mampu memahamiku, aku yakin kalian pasti paham.                                                     

“Mah.. Pih..” Lirih kusebut nama kalian.  “Teteh gak sanggup lagi,” tangisku.

“Ada Mamah sama  Bapak disini,” Jawab kalian, sambil menunjuk dadaku dan lanjut memelukku.



00.45 WIB, Sabtu 25 Desember 2015
Ketika tak ada yang sebegitu sayangnya diriku,
Aku hanya butuh “Sepasang Manusia Langit” yang mencintaiku tanpa  syarat,.