Masih teringat kejadian beberapa tahun
yang lalu, saat ketidakwarasan terus menari dan benakku penuh dengan mimpi –
mimpi gila. Saat itu, obat paling
mujarab bukanlah butiran pil yang diresepkan oleh dokter psikiater yang harus
ditebus dengan lembaran uang ratus ribuan.
Melainkan cinta mama dan bapak yang mereka tunjukan dengan berjuta
perhatian. Ketika itu juga sehatku mulai
datang dan aku tersadar bahwa aku dicintai.
Ya,
aku dicintai oleh kedua orangtuaku, dan saat itu cukup bagiku. Tak perlu ada orang lain lagi, cukup mereka
berdua.
Kini,
aku kembali merasakan dunia terhimpit, tertekan, dan tak bisa berpikir
jernih. Segalanya buntu dan keyakinan
akan kegagalan menghantui setiap langkahku.
Mengapa kejadian ini terus menerus berulang terjadi. Akankah masa lalu tak bisa pergi jauh – jauh
dari diri ini. Oh Tuhan….
Tertekan
lagi, dan aku tak sanggup melangkah.
Untuk berpijak akupun tak sanggup.
Mama..
bapak..
Saat
ini aku juga butuh kalian, aku tak butuh orang lain..
Sangat
butuh.. terdesak, aku mohon
“Kalo teteh ga bisa nikah, nanti gimana ma?” tanyaku saat itu. Pertayaan itu melintas begitu saja di otakku
ketika aku memandang kepala plontosku.
…
“Masih
ada mama, ada bapa. Teteh jangan takut.”
Jawaban singkat dan sederhana namun penuh makna. Jawaban seorang Ibu yang berusaha meyakinkan
anaknya agar tak takut dengan apapun.
Dan aku menangis,
Kami
berdua masih harus melalui ratusan kilometer lagi untuk sampai. Setelah menghabiskan kurang lebih 3 jam perjalanan akhirnya kami sampai di area
parkiran sebuah rumah sakit di daerah Bandung.
Aku pandangi wajah bapak yang begitu lelah, namun ia paksa sembunyikan
itu agar tak tampak olehku. Bapak banyak
diam, namun bukan karena tak peduli.
Namun itu tanda cinta bapak untuk anak gadisnya. Aku faham,
“kalo teteh ga sembuh, gimana pih?” tanyaku mengawali pembicaraan.
Bapak
terdiam cukup lama, aku tahu saat itu bapak berusaha memilih kata – kata yang
tepat untuk menjawab pertayaanku.
“Nanti
kita cari dokter yang jauh lebih hebat, rumah sakit yang jauh lebih besar dan
bagus.” Jawabmu dengan wajah penuh semangat.
Bapak,
apa masih kuat dirimu mengendarai motor ribuan kilometer hanya untuk anakmu
ini?, hanya karena ingin anakmu sembuh Ya Tuhan, aku kembali menangis di dalam hati.
Aku
berusaha memejamkan mata, berusaha menghadirkan kalian di dalam pikiranku. Aku terus memanggil nama kalian, berkali –
kali. Apakah kalian merasakannya?
Ketika tak ada satupun yang mampu memahamiku, aku yakin
kalian pasti paham.
“Mah..
Pih..” Lirih kusebut nama kalian. “Teteh
gak sanggup lagi,” tangisku.
“Ada
Mamah sama Bapak disini,” Jawab kalian,
sambil menunjuk dadaku dan lanjut memelukku.
00.45
WIB, Sabtu 25 Desember 2015
Ketika
tak ada yang sebegitu sayangnya diriku,
Aku hanya butuh “Sepasang
Manusia Langit” yang mencintaiku tanpa
syarat,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar