Kamis, 21 April 2016

Tetap Kalian,



Masih teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ketidakwarasan terus menari dan benakku penuh dengan mimpi – mimpi gila.  Saat itu, obat paling mujarab bukanlah butiran pil yang diresepkan oleh dokter psikiater yang harus ditebus dengan lembaran uang ratus ribuan.  Melainkan cinta mama dan bapak yang mereka tunjukan dengan berjuta perhatian.  Ketika itu juga sehatku mulai datang dan aku tersadar bahwa aku dicintai.
Ya, aku dicintai oleh kedua orangtuaku, dan saat itu cukup bagiku.  Tak perlu ada orang lain lagi, cukup mereka berdua.

Kini, aku kembali merasakan dunia terhimpit, tertekan, dan tak bisa berpikir jernih.  Segalanya buntu dan keyakinan akan kegagalan menghantui setiap langkahku.  Mengapa kejadian ini terus menerus berulang terjadi.  Akankah masa lalu tak bisa pergi jauh – jauh dari diri ini.  Oh Tuhan….

Tertekan lagi, dan aku tak sanggup melangkah.  Untuk berpijak akupun tak sanggup.

Mama.. bapak..
Saat ini aku juga butuh kalian, aku tak butuh orang lain..
Sangat butuh.. terdesak, aku mohon

“Kalo teteh ga bisa nikah, nanti gimana ma?” tanyaku saat itu.  Pertayaan itu melintas begitu saja di otakku ketika aku memandang kepala plontosku.
“Masih ada mama, ada bapa.  Teteh jangan takut.” Jawaban singkat dan sederhana namun penuh makna.  Jawaban seorang Ibu yang berusaha meyakinkan anaknya agar tak takut dengan apapun.  Dan aku menangis,

Kami berdua masih harus melalui ratusan kilometer lagi untuk sampai.  Setelah menghabiskan kurang lebih 3  jam perjalanan akhirnya kami sampai di area parkiran sebuah rumah sakit di daerah Bandung.  Aku pandangi wajah bapak yang begitu lelah, namun ia paksa sembunyikan itu agar tak tampak olehku.  Bapak banyak diam, namun bukan karena tak peduli.  Namun itu tanda cinta bapak untuk anak gadisnya.  Aku faham,

“kalo teteh ga sembuh, gimana pih?” tanyaku mengawali pembicaraan.
Bapak terdiam cukup lama, aku tahu saat itu bapak berusaha memilih kata – kata yang tepat untuk menjawab  pertayaanku.

“Nanti kita cari dokter yang jauh lebih hebat, rumah sakit yang jauh lebih besar dan bagus.” Jawabmu dengan wajah penuh semangat.

Bapak, apa masih kuat dirimu mengendarai motor ribuan kilometer hanya untuk anakmu ini?, hanya karena ingin anakmu sembuh   Ya Tuhan, aku kembali menangis di dalam hati.

Aku berusaha memejamkan mata, berusaha menghadirkan kalian di dalam pikiranku.  Aku terus memanggil nama kalian, berkali – kali.  Apakah kalian merasakannya?

Ketika tak ada satupun yang mampu memahamiku, aku yakin kalian pasti paham.                                                     

“Mah.. Pih..” Lirih kusebut nama kalian.  “Teteh gak sanggup lagi,” tangisku.

“Ada Mamah sama  Bapak disini,” Jawab kalian, sambil menunjuk dadaku dan lanjut memelukku.



00.45 WIB, Sabtu 25 Desember 2015
Ketika tak ada yang sebegitu sayangnya diriku,
Aku hanya butuh “Sepasang Manusia Langit” yang mencintaiku tanpa  syarat,.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar