Kamis, 21 April 2016

Ketika Teramat benci denganmu wahai_ "PerPISAHaN"



Dunia impianku seketika lenyap, ketika aku tersadar bahwa kau akan segera meninggalkan diriku sendiri.  Kejadian yang terus menerus berulang, dan tetap menyisakan rasa pedih dan sesak di dada.  Ketika kau hadir, aku bagai ratu di duniaku sendiri.  Kau bagaikan napas yang mampu menggerakan seluruh tubuhku.  Gairahku bergejolak, meletup – letup tak terbendung.  Begitulah diriku, ketika kau hadir dan seketika itu juga kau mampu menentramkan segala resahku.

“Suamiku…jangan pergi lagi” rengekanku sambil mencoba menahan tangis meskipun tampaknya tak berhasil.

Seketika itu juga kau hanya membalasnya dengan sebuah senyuman… 
ya, senyuman perpisahan.  Bisa ditebak, saat itu juga air mata ini menetes perlahan dan semakin deras mengalir.  Tak sanggup membayangkan betapa beratnya melalui hari demi hari tanpa dirimu.


Sayangku, apakah tangisku tak berarti bagimu.  Apakah tangisku tak mampu menjadi penahan langkahmu.

Sayangku, aku bagaikan kapal yang berlayar tanpa nahkoda.  Yang terombang ambing di lautan tanpa arah, yang tak berdaya ketika terhantam ombak. 

Aku tak peduli dengan apa yang membuatmu mampu bertahan tanpa aku disampingmu.  Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku begitu lemah tanpamu, aku semakin lama semakin terluka dan tak bisa dipastikan sampai kapan bisa terus bertahan.

“Suamiku, cepat pulang” hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.  Kalimat permohonan yang penuh dengan berjuta harapan, bahwa kau akan menjawab dengan segera “Aku pulang sayang”.


Ntah sampai kapan kalimat permohonan itu akan terucap dari mulutku…

Ntah sampai kapan… aku masih bisa menanti dengan sabar, menahan luka yang terus menerus semakin membusuk… karenaMu..





Selasa, 10 November 2015

23:06 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar