Dunia impianku seketika lenyap, ketika
aku tersadar bahwa kau akan segera meninggalkan diriku sendiri. Kejadian yang terus menerus berulang, dan
tetap menyisakan rasa pedih dan sesak di dada.
Ketika kau hadir, aku bagai ratu di duniaku sendiri. Kau bagaikan napas yang mampu menggerakan
seluruh tubuhku. Gairahku bergejolak,
meletup – letup tak terbendung.
Begitulah diriku, ketika kau hadir dan seketika itu juga kau mampu
menentramkan segala resahku.
“Suamiku…jangan
pergi lagi” rengekanku sambil mencoba menahan tangis meskipun tampaknya tak
berhasil.
Seketika
itu juga kau hanya membalasnya dengan sebuah senyuman…
ya, senyuman perpisahan. Bisa ditebak, saat itu juga air mata ini
menetes perlahan dan semakin deras mengalir.
Tak sanggup membayangkan betapa beratnya melalui hari demi hari tanpa
dirimu.
…
Sayangku,
apakah tangisku tak berarti bagimu.
Apakah tangisku tak mampu menjadi penahan langkahmu.
Sayangku,
aku bagaikan kapal yang berlayar tanpa nahkoda.
Yang terombang ambing di lautan tanpa arah, yang tak berdaya ketika
terhantam ombak.
Aku tak peduli dengan apa yang membuatmu
mampu bertahan tanpa aku disampingmu.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku begitu lemah tanpamu, aku semakin
lama semakin terluka dan tak bisa dipastikan sampai kapan bisa terus bertahan.
“Suamiku,
cepat pulang” hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Kalimat permohonan yang penuh dengan berjuta
harapan, bahwa kau akan menjawab dengan segera “Aku pulang sayang”.
…
Ntah
sampai kapan kalimat permohonan itu akan terucap dari mulutku…
Ntah
sampai kapan… aku masih bisa menanti dengan sabar, menahan luka yang terus
menerus semakin membusuk… karenaMu..
Selasa,
10 November 2015
23:06
WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar