Kamis, 21 April 2016

Bukan Yang Kita Inginkan… Tapi Yang Kita Butuhkan…



Pagi itu, seperti biasa.  Kami berdua melaju dengan sepeda motor, sengaja kupacu perlahan sembari menikmati hangatnya cahaya matahari pagi.  Padahal jam analog di telepon genggam sudah menunjukkan pukul 07.22 wib.  Itu berarti tinggal 8 menit lagi kegiatan di sekolah kaka dimulai.  Tapi tetap tak mau cepat, berharap waktu melambat dan kali ini ingin berdamai sejenak.  Kurasa itu yang kuperlukan,
“Bunda kenapa gak beli mobil? Kemarin temen kaka dianter ayahnya pake mobil ke sekolah..” pertanyaan kaka yang penuh semangat menceritakan tentang temannya membangunkan aku dari lamunanku.  Huft,,, aku terdiam dan hanya menjawab dengan senyuman kecut yang sengaja kupajang di kaca spion motor agar kaka melihatnya.  Kujawab singkat karena aku yakin itu tak akan membuat kaka puas dengan pertanyaanya “Nanti ya ka, kalo kita punya uang nanti kita beli” ntah itu benar – benar sebuah janji yang kelak suatu saat akan kutepati atau hanya sebuah gombalan untuk menghentikan pertanyaan lanjutan dari mulut mungil bidadari kecilku.  Lucunya, aku ketakutan dengan pertanyaan putri semata wayangku.  Ternyata kaka kembali bersuara dengan penuh semangat dan tentu saja dengan kepolosannya.  Aku berpikir sepertinya ia tak pernah kehabisan energi untuk mengomentari apapun itu meskipun untuk hal yang tak penting.  “Ah, gak usah beli Bunda.  kalo pake mobil, Bunda belum tentu bisa ngebut.  Terus gimana kalo mobilnya ilang dicuri penjahat, kan bunda sama ayah gak pernah ada di rumah.  Pake motor aja biar gak telat ke sekolah” pendapatmu yang sederhana namun seketika itu juga membuat aku merasa ditampar, namun dengan lembut, selembut pancaran matahari pagi ini.

Aku ingin menangis, namun kutahan sekuat tenaga.  Biarkan tangis ini pecah nanti ketika aku dalam kesendirian tanpa seorangpun melihatnya.  Biar terlepas semua rasa perih ini dari hatiku.  Gerbang sekolah berwarna pelangi mulai tampak menangkap arah pandanganku yang tak menentu.  Hampir terlambat, namun aku yakin jika terlambatpun tak akan ada hukuman bagimu malaikat kecilku.  Aku tahu mereka, guru-gurumu di sekolah amat menyayangimu, sama halnya seperti aku meskipun sayangku selalu abadi sampai mati.  Kau turun dari tempat boncenganmu dengan lincah dan segera mengulurkan tanganmu untuk meraih tanganku lalu mencium punggung tangan kurus berwarna coklat kehitaman ini.  Aku tersenyum, kupandangi tanganku yang sering terpaksa terbakar oleh terik sinar matahari karena lupa memakai sarung tangan ketika bekerja jadwal siang.  Ya, aku jarang di rumah dan selalu meninggalkanmu, sayang.  Tak lupa kau menyisakan senyum manismu lalu berbalik dan segera disambut oleh sapaan lembut dari gurumu di balik pintu gerbang.  Kudoakan semoga harimu selalu penuh dengan keberkahan, amiiin..

Aku segera memutar arah, berharap masih bisa menahan tangis ini.  Sungguh menyesakan dada.  Sugguh,
Kubuka pintu rumah, mungkin tampak tergesa-gesa.  Namun itu yang kuinginkan, segera melepas semua rasa perih ini.  Menangis sejadi – jadi kemudian menyadarkan diri dari kekhilafan selama ini.  Ya Allah, mengapa aku berpura – pura bodoh, menganggap nikmatmu berbatas.  Padahal semua yang kumiliki saat ini tak lain adalah nikmat dari-Mu. 
………
Hidup, dan aku masih hidup
Bernapas, dan aku masih bernapas
Merasakan, dan aku masih bisa merasakan
Semuanya, semuanya tak lain adalah nikmat-Mu
………

Malaikat kecilku, sungguh kau telah menyadarkanku.  Bahwa Allah memberikan semua yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.  Karena Allah tau segalanya, nikmatnya luas tak ada batas.

Kitalah yang berbatas,

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman : 55)

Teruntuk my_L, yang api nerakapun takkan pernah menyentuh kedua telapak tangannya..
Kau adalah bukti nikmat-Nya,
Semoga Allah senantiasa menjagamu di Dunia-Nya dan di Akhirat-Nya, amiiin

Rabu, 23 Maret 2016
10.35 WIB, rumah mungil kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar