Pagi itu, seperti biasa. Kami berdua melaju dengan sepeda motor,
sengaja kupacu perlahan sembari menikmati hangatnya cahaya matahari pagi. Padahal jam analog di telepon genggam sudah
menunjukkan pukul 07.22 wib. Itu berarti tinggal 8 menit
lagi kegiatan di sekolah kaka dimulai. Tapi
tetap tak mau cepat, berharap waktu melambat dan kali ini ingin berdamai
sejenak. Kurasa itu yang kuperlukan,
“Bunda
kenapa gak beli mobil? Kemarin temen kaka dianter ayahnya pake mobil ke sekolah..”
pertanyaan kaka yang penuh semangat menceritakan tentang temannya membangunkan
aku dari lamunanku. Huft,,, aku terdiam
dan hanya menjawab dengan senyuman kecut yang sengaja kupajang di kaca spion
motor agar kaka melihatnya. Kujawab singkat
karena aku yakin itu tak akan membuat kaka puas dengan pertanyaanya “Nanti ya
ka, kalo kita punya uang nanti kita beli” ntah itu benar – benar sebuah janji
yang kelak suatu saat akan kutepati atau hanya sebuah gombalan untuk
menghentikan pertanyaan lanjutan dari mulut mungil bidadari kecilku. Lucunya, aku ketakutan dengan pertanyaan putri
semata wayangku. Ternyata kaka kembali
bersuara dengan penuh semangat dan tentu saja dengan kepolosannya. Aku berpikir sepertinya ia tak pernah
kehabisan energi untuk mengomentari apapun itu meskipun untuk hal yang tak
penting. “Ah, gak usah beli Bunda. kalo pake mobil, Bunda belum tentu bisa
ngebut. Terus gimana kalo mobilnya ilang
dicuri penjahat, kan bunda sama ayah gak pernah ada di rumah. Pake motor aja biar gak telat ke sekolah”
pendapatmu yang sederhana namun seketika itu juga membuat aku merasa ditampar,
namun dengan lembut, selembut pancaran matahari pagi ini.
Aku
ingin menangis, namun kutahan sekuat tenaga.
Biarkan tangis ini pecah nanti ketika aku dalam kesendirian tanpa
seorangpun melihatnya. Biar terlepas
semua rasa perih ini dari hatiku. Gerbang
sekolah berwarna pelangi mulai tampak menangkap arah pandanganku yang tak
menentu. Hampir terlambat, namun aku
yakin jika terlambatpun tak akan ada hukuman bagimu malaikat kecilku. Aku tahu mereka, guru-gurumu di sekolah amat
menyayangimu, sama halnya seperti aku meskipun sayangku selalu abadi sampai
mati. Kau turun dari tempat boncenganmu dengan
lincah dan segera mengulurkan tanganmu untuk meraih tanganku lalu mencium
punggung tangan kurus berwarna coklat kehitaman ini. Aku tersenyum, kupandangi tanganku yang
sering terpaksa terbakar oleh terik sinar matahari karena lupa memakai sarung
tangan ketika bekerja jadwal siang. Ya,
aku jarang di rumah dan selalu meninggalkanmu, sayang. Tak lupa kau menyisakan senyum manismu lalu
berbalik dan segera disambut oleh sapaan lembut dari gurumu di balik pintu
gerbang. Kudoakan semoga harimu selalu
penuh dengan keberkahan, amiiin..
Aku
segera memutar arah, berharap masih bisa menahan tangis ini. Sungguh menyesakan dada. Sugguh,
Kubuka
pintu rumah, mungkin tampak tergesa-gesa.
Namun itu yang kuinginkan, segera melepas semua rasa perih ini. Menangis sejadi – jadi kemudian menyadarkan
diri dari kekhilafan selama ini. Ya
Allah, mengapa aku berpura – pura bodoh, menganggap nikmatmu berbatas. Padahal semua yang kumiliki saat ini tak lain
adalah nikmat dari-Mu.
………
Hidup,
dan aku masih hidup
Bernapas,
dan aku masih bernapas
Merasakan,
dan aku masih bisa merasakan
Semuanya,
semuanya tak lain adalah nikmat-Mu
………
Malaikat
kecilku, sungguh kau telah menyadarkanku.
Bahwa Allah memberikan semua yang kita butuhkan, bukan yang kita
inginkan. Karena Allah tau segalanya,
nikmatnya luas tak ada batas.
Kitalah
yang berbatas,
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang
kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman : 55)
Teruntuk my_L, yang api nerakapun takkan pernah menyentuh kedua telapak tangannya..
Kau
adalah bukti nikmat-Nya,
Semoga
Allah senantiasa menjagamu di Dunia-Nya dan di Akhirat-Nya, amiiin
Rabu,
23 Maret 2016
10.35 WIB, rumah mungil
kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar