Senin, 13 Juni 2016

Hanya “Sia – sia”, ketika aku & dia tak CINTA



‘‘Tuhan mungkin yang telah menjodohkan kami berdua“ hatiku berucap, sembari terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan kembali seperti semula.  Masih teringat masa – masa indah di awal pernikahan kami berdua.  Rasanya baru kemarin aku mengenakan kebaya berwarna putih dengan kerudung berhias untaian bungan melati yang masih segar baunya.  Padahal kejadian itu sudah hampir 4 tahun yang lalu, dan kini kami berdua terduduk merenungi nasib satu sama lain, dengan terus menerus memenuhi semua volume otak dengan emosi yang secara perlahan – lahan menguras rasa cinta kasih kami.  Ya, kami berdua sedang bertengkar, berperang, saling menyerang, dan rasanya ingin saling melumpuhkan kekuatan musuh (yang tak lain adalah adalah belahan jiwa,DULUnya).
Sulit bagi kami untuk melemahkan hati demi mengakhiri pertempuran ini.  Sehingga pada ujungnya tak pernah ada kata ‘‘happy ending“.  Tamparan, tendangan, pukulan, tinjuan semua itu turut berpartisipasi ketika kami sedang bertengkar.  Hanya lebam, goresan, cakaran dan luka lainnya yang tersisa dari semua kejadian itu.  Tak ada satupun pihak di antara kami berdua yang dinyatakan sebagai pemenang.  Tak ada pula yang kalah.  Maka, hanya berakhir sia – sia....
Andai aku atau dia mampu mengucapkan kata “maaf“ dengan hati tulus dan ikhlas.  Tapi nyatanya lebih sulit daripada menunjukan kebencian yang sesungguhnya hanya muncul seketika dan menjadi bahan bakar yang ampuh untuk memenuhi tangki mesin amarah kami. 
Andai aku atau dia bisa saling meredam amarah dengan rasa cinta kasih kami yang sudah berikrar untuk saling memahami.  Ya Tuhan... (aku menangis),
Andai kami lebih sederhana untuk mengartikan keberadaan kami satu sama lain.  Tuhan yang telah menjodohkan aku dan dia.  Tuhan yang telah mempertemukan aku dan dia di saat yang tepat dan membiarkan kami untuk belajar bersama untuk menghadapi saat – saat yang tidak tepat.  Tuhan telah menitipkan “Cinta“ agar aku dan dia tidak berakhir dengan sia – sia.

Nb : “Abi sayang, maafkan umi yang tidak pernah mau mengalah, dan terima kasih karena abi bersedia untuk selalu mengalah demi umi.. bukan!!! Bukan demi umi, demi kami (aku dan dia)“ ^

Kejadian aslinya mungkin gak seseram tulisan ini,,, hehehe... hanya saja ingin berbagi bahwa pernikahan harus selalu diperjuangkan.. dengan banyak cara.. salah satunya dengan terus belajar dari kesalahan - kesalahan di masa lalu...
masa lalu bukan untuk dihapus,, bukan untuk dilupakan begitu saja,, melainkan untuk menjadikan diri kita lebih baik di masa depan,,,
kekuatan cinta itu dibuktikan ketika kita dalam kondisi tak menguntungkan,, sejauh mana kita belajar dari masa lalu,,
pegang erat tangan si Cinta,, susun taktik bersama,, dan baca bismillah... ^^ AYO belajar Bersama - sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar