Senin, 13 Juni 2016

Mimpimu Meskipun Bukan Mimpiku,, Tapi itu Bahagiaku.. ^^



“2 minggu,… tapi bisa jadi 4 minggu ko mi” jelasmu lewat saluran telepon.  Seketika itu perasaanku tak nyaman, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. 

“ko kayak yang gak seneng abi telpon,??” akhirnya kita sepakat menutup telpon masing – masing.  Dan aku tertegun di depan layar laptop.  Pandanganku kosong tak tertuju, dan kepalaku penuh dengan bayangan – bayangan yang hanya melintas lalu lalang tak tentu arah.  Argggghhhhh,,,,,, aku muak!!!!

Untuk beberapa saat mungkin aku membiarkan otakku menerima semua sinyal yang tercipta dari rasa muak yang hampir memenuhi setiap sela-sela di rongga dada.  Dan setelah itu akhirnya memutuskan untuk kembali berpikir logis.  Kamu butuh aku.  Cuma aku yang bisa.  Yap, only me. That’s right.

…………………….

Terlalu egois jika aku terus membiarkan rasa nyamanku yang menang dan pada akhirnya membiarkan dirimu kembali mengubur impianmu.  Jepang, itu impian terbesarmu kan abi??? Luruh air mataku,
Karena aku dan buah cinta kita, kau putuskan untuk tak lanjut kuliah dan fokus bekerja.  Maaf,

Dan kini aku harus mencoba memahami dengan seluruh sisa-sisa rasa sesak ketika membayangkan kita akan terpisah meskipun hanya dengan selisih waktu 2 jam.  kita tetap terpisah, terpisah dengan jarak 6.050 km.  Memahami bahwa aku tak boleh lagi menjadi penghalang impianmu, tepatnya untuk kali ini. 

“Umi, Abi punya impian lanjut kuliah ke jepang.  Abi tempel kertas tulisan penyemangat biar kalo abi mulai gak semangat atau mulai putus asa.  Abi bakalan semangat lagi” wajahmu tersenyum kala itu, ketika menceritakan impianmu yang tak tau mulai muncul sejak kapan.  Ya, si anak kampung yang bermimpi kuliah sampai negeri sakura.  “Nanti abi ajak umi juga, pasti” kali ini aku yang tersenyum.  Ya, 7 tahun yang lalu, kamu ingat sayang?  Aku mulai kembali mengingat.  Maaf,

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.  Semua hanya menjadi kenangan si anak kampung.  Kamu tak pernah pergi ke jepang.  Impian yang terkubur dalam dan teramat dalam di bawah lubuk hatimu, tersembunyi dan terlupakan –ternyata itu hanya bagiku.  Kau tetap memimpikannya sampai detik ini.  Maafkan aku untuk itu,

Tak pernah terbayangkan jika tesismu tentang pengembangan aplikasi Kopel Thermo – Hydro mekanik itu dibimbing oleh 2 orang dosen yang super hebat.  Setidaknya itulah kesan yang aku tangkap setiap kali mendengarkan ceritamu tentang mereka.  Melalui merekalah Allah SWT mengabulkan impianmu, meskipun belum seutuhnya tetapi sebentar lagi sayang.  Dan Allah SWT Sang Maha Sempurna selalu tepat waktu, tak pernah tergesa – gesa, tak pernah terlambat.  Kini si anak kampung yang dulu hanya bisa tersenyum sambil bermimpi, kini ia sanggup tersenyum sambil berlari mengejar imipiannya, berlari kencang sangat kencang dan penuh semangat.

Bismillah, sayang.. Alhamdulilah, jangan pernah terlupa..

Rindu ini biar aku yang rasa, biar aku yang luapkan bersamaan dengan tetes - tetes air mata dan aku balut melalui doa – doa indah untukmu “Semoga Allah selalu menjaga engkau wahai suamiku, Selalu… amiin”

Jaga dirimu baik – baik disana, selalu ingat Sang Maha Hidup dimanapun kamu berada, bersyukurlah untuk setiap hembusan napas yang masih Allah karuniai untuk kita semua, kembalilah dengan seutuhnya ke dalam pelukan kami, keluargamu.. dan ketika Allah pertemukan kita nanti, berikan senyuman terindah hanya untukku, hanya untuk istrimu seorang… usaplah air mata istrimu ini, tapi berjanjilah untuk tidak bersedih.. itulah rinduku.. itulah bahagiaku.. itulah kamu.. suamiku,

Suamiku tersayang, si Lelaki pemimpiku…yang tak pernah berhenti bermimpi…


Selasa, 13 Juni 2016 23:05 (Ramadhan yang selalu indah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar